Regulasi untuk Batu Klawing

Regulasi untuk Batu Klawing- Tiga tahun yang lalu, masyarakat Purbalingga belum banyak yang mengerti potensi ekonomi dari batu Klawing. Ketika masa itulah justru terjadi penambangan besar-besaran yang dilakukan oleh para kolektor batu dari luar daerah Purbalingga, lalu bahan batu mulia Sungai Klawing dibawa keluar daerah untuk dikembangkan di daerah lain.

Ketika Batu Klawing mulai dikenal dan booming dipasaran, maka mendapat keuntungan bukan masyarakat Purbalingga tetapi para kolektor yang sudah lebih dulu mengambil kekayaan alam daerah Purbalingga itu.

Pemkab Purbalingga, Jawa Tengah akan segera membuat regulasi untuk mengatur pendayagunaan batu mulia dari Sungai Klawing. Langkah itu untuk menghindari penambangan besar-besaran batu mulia sebagai bahan batu akik dan perhiasan.

“Bila tidak dibuat regulasi dikahwatirkan akan terjadinya penambangan batu mulia secara besar-besaran yang akan berdampak pada lingkungan hidup,” kata Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto.

Dengan regulasi aturan tentang eksploitasi batu mulia maka masyarakat diharapkan ikut menjaga kelestariannya alan di sekitar sungai Klawing.

“Saya sedang menyiapkan regulasi yang akan mengatur pendayagunaan batu Klawing. Nanti kita susun peraturan bupatinya,” jelasnya.

Bupati Purbalingga berharap pegawwai negeri sipil bisa turut mempromosikan batu mulai asal Sungai Klawing tersebut. “Jumlah PNS di Purbalingga hampir mencapai 10.000 orang. Kalau separuhnya dapat memasarkan kepada teman-temannya di luar daerah, maka produk ekonomi kerakyatan akan tumbuh. Dan sekarang sudah mulai dirasakan oleh masyarakat Purbalingga,” jelasnya.

Ekonomi kerakyatan di Purbalingga mulai menggeliat dengan adanya batu mulia sungai Klawing. Jumlah prajin batu mulia seperti tukang poles batu akik saat ini mencapai ratusan orang. Jasa memoles batu mulia sungai Klawing cukup baik, tarif upah memoles satu buah batu akik berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu.

Bila setiap perajin dalam sehari dapat memoles sedikitnya empat buah batu akik, berarti penghasilan mereka per hari Rp 100 ribu. Bila dikalikan sebulan berati pendapatan mereka mencapai Rp 3 juta. Itu sudah diatas UMR. Jadi tujuan saya membuat regulasi adalah semata-mata untuk kepentingan masyarakat. Itu yang utama,” katan pak Bupati.

Berdasarkan pendataan, saat ini di Purbalingga berkembang ribuan perajin dan pemasar batu akik Klawing dari semula hanya terdapat 300 anggota Paguyuban Batu Akik Klawing.

Demikian informasi tentang Regulasi untuk Batu Klawing. Semoga informasi ini berguna bagi anda.

Anak-Anak Pemburu Batu Klawing

Anak-Anak Pemburu Batu Klawing- Fenomena yang sedang melanda sebagian besar masyarakat Purbalingga akhir-akhir ini. Dimana para peminatnya kali ini tidak hanya didominasi oleh kaum bapak-bapak & orang dewasa saja.

Di Purbalingga anak-anak ikut terjangkit vrus demam batu Klawing. Bila orang dewasa demam memakai batu akik, kalau anak mencari batu Klawing untuk dibuat akik oleh orang dewasa. Hal inilah yang sedang dialami sebagian anak Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga.

Anak-anak yang tinggal disekitar sungai Klawing menghabiskan waktu bermain untuk mencari batu di sungai tersebut. Biasanya mereka pergi ke sungai setelah pulang sekolah.

Meski ke sungai bersama, anak-anak itu mencari batu sendiri- sendiri. Mereka tidak menggerombol. Masing-masing mencari keberuntungan sendiri. Untuk mendapatkan batu yang bagus tidak mudah. Terkadang memang ditemukan di pinggir sungai, namun terkadang mereka harus bersusah payah mendapatkan.

Namun tak semua uang hasil penjualan itu diberikan kepada mereka. Mereka mengaku hanya diberi sebagian uang oleh orang tuanya. Tidak disangka kini bebatuan dari sungai manapun di Purbalingga terus diburu. Dengan harga yang luar biasa pula. Dari yang tanpa motif seharga Rp.20.000,- hingga yang kelas ontes dengan harga milyaran. Bahkan komunitas pecinta bebatuan Klawing pun terus bertambah.

Demikian informasi tentang Anak-Anak Pemburu Batu Klawing. Semoga informasi ini bermanfaat untuk anda.

Batu Akik Klawing Green Jasper

Batu Akik Klawing Green Jasper- Jenis batu Klawing hijau atau jasper ini sebenarnya banyak didapat dihampir seluruh wilayah Indonesia bahkan negara-negara lain di dunia. Namun ada yang unik dan berciri khas tentang batu Nogo Sui. Negara India misalnya disana juga menghasilkan batu jenis Jasper ini, dan secara kasat mata hampir punya kesamaan dengan yang ada di Indonesia. Batu Klawing hijau memang punya kelebihan akan warna dan seperti berpola gambar. Biasanya ornamen warna yang ada pada batu Klawing hijau sangat berfariasi. Motif yang di lihat secara visual sangat menarik dan beraneka ragam.

Batu Klawing hijau juga banyak dicintai orang-orang luar negeri. Untuk mengapresiasikannya menjadi berbagai bentuk perhiasan. Karena secara material batu Klawing hijau bahannya bisa berukuran besar sehingga membentuk perhiasan seperti cincin, liontin, gesper kalung dan berbagai seni kerajinan lain pun bisa, boleh dibilang sangat leluasa mengolah batu Klawing hijau ini.

Secara ilmiah batu Klawing hijau yang yang bisa disebut Blood Stone ini mempunyai kandungan Heliotrope yang merupakan Chalcedony dengan mineral Cryptocrisatlline antara kuarsa dan mooclynic polymorph moganite. Blood stone terkenal dengan Chalcedony hijau yang memiliki inklusi iron oxide jasper merah,namun inklusi yang di hasilkan tidak selalu berwarna merah bisa kekuningan dan orange.

Dari cerita si turis, batu tersebut akan dipakai untuk bahan batu cincin dengan ukiran cap kebangsawanan di atasnya. Ayahnya pernah mendapatkan batu tersebut di Jakarta seusai Perang Dunia II dan kini keturunannya menginginkan cincin sejenis. Le Sang Du Christ atau batu darah Kristus juga disebut heliotrope karena sejarah memang pernah mencatat kegunaannya sebagai alat untuk mengamati gerakan matahari. Heliotrope diambil dari bahasa Yunani, helios berarti matahari dan tropos sama dengan berputar.

Corak batuan Klawing hijau sebenarnya sangat beragam. Selain dihiasi bercak-bercak merah, ada yang berlapis merah yang sangat kontras, hijau terang, cokelat, kuning, kelabu, dan hitam. Yang paling umum adalah hijau dan merah darah itu. Secara ilmiah, Tjipto menjelaskan, warna-warna hijau dan merah itu berasal dari ekspresi oksida besi yang terkandung dalam batu. “Jenis batuan ini terbentuk pada zaman miosen atas, sekitar 5-10 juta tahun yang lalu,” sang geolog menjelaskan.

Batu Klawing hijau darah Kristus atau heliotrope atau nogo suwi atau apa pun namanya, tergolong batu berkualitas tinggi di jagat batu mulia. Mineral silika yang tak tembus cahaya namun permukaan pecahannya sangat halus ini sudah sejak ribuan tahun lalu digunakan sebagai ornamen maupun batu permata.

Tingkat kekerasannya menjulang mencapai 7-7,5 dalam skala mohs. Sebagai pembanding, intan sebagai batu mulia paling mahal mempunyai kekerasan 10 dalam skala yang sama.

Demikian informasi tentang Batu Akik Klawing Green Jasper, semoga informasi singkat ini dapat memberi manfaat bagi anda semua. Sehingga wawasan serta pengetahuan anda tentang aneka ragam batu akik semakin bertambah.

Batu Klawing, Batu Mulia Darah Kristus

Batu mulia darah Kristus yang cukup langka, ditemukan di sekitar aliran Sungai Gintung yang merupakan salah satu anak Sungai Klawing, di Kabupaten Purbalingga. Batu yang cukup diincar kalangan bangsawan Prancis itu ditemukan oleh ahli geologi Institut Teknologi Bandung Budi Brahmantyo dan Sekretaris Jenderal Masyarakat Batu Mulia Indonesia , Sujatmiko, dengan dibantu puluhan mahasiswa Geologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Di sekitar aliran Sungai Gintung juga ditemukan banyak batu bertekstur pipih pada satu sisi dan tebal di sisi lain seperti kapak genggam. Diduga batu-batu itu adalah hasil buatan manusia masa pra-sejarah zaman neolitikum antara 5.000 sampai 10.000 tahun yang lalu.

Menurut Sujatmiko, temuan batu darah Kristus yang dikenal sebagai le sang du Christ di Prancis, merupakan temuan yang paling menarik. Selama ini, batu itu baru ditemukan di India, dan belum ditemukan di daerah lain di Indonesia.

Batu tersebut, memiliki ikatan emosional dengan umat Kristiani karena bercak merah pada batu jasper berwarna dasar hijau itu diyakini tetesan darah Yesus Kristus saat disalib. Karenanya bagi kalangan bangsawan Prancis, batu itu digunakan sebagai cap kebangsawanan. 

"Saya pernah diminta oleh seorang bangsawan Prancis mencari batu darah Kristus itu. Tapi saat itu, saya tidak punya dan tak tahu mau dicari di mana," ucapnya.

Batu darah Kristus juga digunakan oleh ilmuwan kuno untuk mempelajari siklus matahari. Karenanya, batu itu dikenal sebagai heliotrop. Sementara bagi warga sekitar aliran Sungai Gintung di Desa Arenan, Kecamatan Kaligondang, batu darah Kristus dikenal sebagai nogo sui karena warnanya yang menarik.

Batu darah Kristus sebetulnya sudah menjadi buah bibir sejak tahun 1985 dengan nama populernya batu klawing. Namun karena baru sebatas buah bibir, kami pun tidak tahu pasti seperti apa batu klawing itu. Baru kali ini, ternyata batu klawing itu adalah batu darah Kristus.

Selain menyimpan batu mulia yang cukup langka, menurut ahli geologi ITB Budi Brahmantyo, Sungai Gintung juga menyimpan bebatuan hasil budaya neolitikum berupa kapak genggam untuk menetak maupun memukul.

"Namun untuk membuktikan aliran sungai itu merupakan situs budaya manusia masa pra-sejarah , harus didukung oleh pencarian kerangka manusia purba. Kalau memang ada, aliran sungai itu harus dikonservasi sebagai situs arkeologi," kata Budi yang juga Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata ITB.

Sementara, di sepanjang aliran Sungai Gintung hingga kawasan muaranya di Sungai Klawing, cukup banyak ditemukan penggalian batu dan pasir. Hal itu pun dilegalkan oleh pemerintah daerah setempat. "Jangan sampai batu-batu berharga ini ikut diambil oleh para penggali batu dan pasir. Temuan ini harus segera ditindaklanjuti," kata Budi.

Setelah memperoleh laporan temuan tersebut, Bupati Triyono Budi Sasongko mengaku, sama sekali tidak mengetahui kalau Sungai Gintung menyimpan batu-batu mulia dan artefak neolitikum cukup berharga. "Masalahnya, kami kan tidak tahu macam-macam batu sungai. Tetapi d engan adanya hasil laporan temuan ini, tentu akan kami dukung untuk eksplorasi selanjutnya, termasuk untuk pembuatan museumnya.